Portal Berita Terpercaya - harianrakyat.id
https://www.harianrakyat.id/30-tahun-mengabdi-kader-posyandu-ini-jadi-jembatan-kesehatan-masyarakat
Rilis: Selasa, 29 September 2026

30 Tahun Mengabdi, Kader Posyandu Ini Jadi “Jembatan” Kesehatan Masyarakat

Kristin Mujawati, kader Posyandu Salak Desa Plosolor, Kediri, mengabdi hampir 30 tahun membantu warga mengakses layanan kesehatan. Ia mendampingi warga kurang mampu hingga ke rumah sakit dan berharap posyandu mendapat dukungan transportasi serta anggaran yang lebih memadai.

30 Tahun Mengabdi, Kader Posyandu Ini Jadi “Jembatan” Kesehatan Masyarakat
Bacakan Artikel

HARIANRAKYAT.ID, KABUPATEN KEDIRI — Di tengah berbagai tantangan pelayanan kesehatan di tingkat desa, sosok Ibu Kristin Mujawati tetap setia mengabdi. 

Selama hampir 30 tahun, perempuan berusia 61 tahun ini menjadi kader Posyandu Salak di Desa Plosolor, Kecamatan Plosoklaten. Baginya, menjadi kader bukan sekadar tugas, melainkan panggilan untuk membuat diri bermanfaat bagi lingkungan.

“Motivasi saya hanya ingin diri saya bermanfaat untuk lingkungan, untuk sekitar, untuk menyehatkan masyarakat bersama-sama,” ujar Kristin saat berbagi pengalaman di acara jambore kader posyandu yang di gelar di Sumber Ubala Plosoklaten, Selasa (29/9/2026).

Tantangan terbesar yang sering dihadapi bukan soal teknis, melainkan menjangkau warga dari keluarga kurang mampu yang takut atau enggan berobat. 


Ia pernah menemukan seorang ibu dengan anemia berat—kadar hemoglobin hanya 1,9. Saat itu, saat melakukan kegiatan jumantik, Kristin melihat ibu tersebut berjemur dalam kondisi sangat pucat.

Awalnya sang ibu menolak diajak ke puskesmas karena takut dan tidak tahu caranya. Kristin pun meyakinkan,  “Ayo, nanti saya yang daftar, saya yang membawakan. Ibu tinggal ikut.”

 Hasilnya, pasien dirujuk ke rumah sakit dan menjalani rawat inap sebanyak enam kali. Kristin setia mendampingi dan mengantarnya hingga akhirnya sembuh.

“Hal-hal seperti itulah yang membuat kami bangga sebagai kader. Kami dipercaya oleh masyarakat sekitar,” katanya.

Kristin juga menyoroti kasus penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes yang sering ditemukan di posyandu, namun belum ditangani karena warga belum berobat. Banyak yang enggan karena takut antre atau tidak ada yang mengantar.

Ia berharap pemerintah memberikan dukungan lebih nyata, terutama transportasi.

“Kader itu tonggak paling depan di masyarakat. Kadang ada warga yang dapat rujukan, tapi tidak ada yang mengantar. Kami butuh dukungan semacam mobil yang bisa mengantarkan mereka ke puskesmas,” jelasnya.

Harapan terbesarnya terhadap posyandu adalah menjadikannya tempat pertama untuk cek kesehatan di lingkungan. 

“Kalau ada masyarakat yang mengeluh atau merasa sakit, kader bisa diajak. Kemudian mereka bisa datang ke posyandu untuk cek kesehatan,” katanya.

Namun, ia juga menyampaikan keprihatinan. Pemangkasan anggaran membuat kegiatan posyandu terbatas.

 “Dulu sasaran bisa mencapai ratusan, sekarang hanya MBG (makan bergizi) untuk balita. Padahal ibu hamil dan lansia juga butuh,” ujarnya.

Meski anggaran terbatas, semangat Kristin dan rekan-rekannya tidak surut. Mereka tetap sabar memberi pemahaman agar warga mau berobat. Bagi Kristin, kepercayaan masyarakat adalah penghargaan terbesar setelah tiga dekade mengabdi.  (lik).