News and Education Versi penuh
Tangerang Raya

Disertasi Taufik Setyaudin Kupas Filantropi Islam Perkotaan Tangsel

Riset ini menyoroti strategi BAZNAS dan lembaga zakat dalam meningkatkan penghimpunan ZIS melalui layanan personal, transparansi, serta adaptasi digital.

Oleh Adm 01 Oct 2026 07:42 2 menit baca

HARIANRAKYAT.Id, TANGSEL– BAZNAS Kota Tangerang Selatan (Tangsel)  mengulas tentang" Konstruksi Sosial Muzakki Prioritas dalam Ekosistem Filantropi Islam Perkotaan". Dikemas dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD), berlangsung  di Kantor Baznas Tangsel, Rabu (30/9/2026).

Salah satu Komisioner BAZNAS Kota Tangsel sekaligus mahasiswa program doktoral Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Taufik Setyaudin, mengatakan FGD ini diselenggarakan sebagai bagian dari proses riset disertasi. Membahas  dinamika pengelolaan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) di kawasan perkotaan.

"Diskusi tak hanya menghadirkan para pimpinan dan pengurus Lembaga Pengelola Zakat (LPZ) se Tangsel , tetapi juga dihadiri  unsur tokoh agama dan tokoh masyarakat," ujarnya. 

Hadir pimpinan dan pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tangsel, KH. Hasan Mustofi dan KH. Aep Saepudin, serta sejumlah pegiat dakwah zakat di wilayah Tangerang Selatan.

Dalam forum hasil penelitian disebut berbagai lembaga pengelola zakat di Tangsel  telah melakukan aneka inovasi dan pendekatan untuk memaksimalkan potensi ZIS. Dimana mencapai ratusan miliar rupiah.

"Upaya perbesaran perolehan pengumpulan ini difokuskan melalui beberapa strategi utama," tambahnya.


Sambungnya, pertama soal pelayanan personal (Personalized Treatment) yakni menekankan pentingnya komunikasi dua arah. Termasuk pendekatan personal, penyediaan layanan jemput zakat, hingga program muqayyad (penyaluran zakat yang disesuaikan dengan minat dan kehendak donatur).

Kedua soal transparansi & akuntabilitas. Untuk menjaga loyalitas dan kepercayaan (trust) muzakki melalui pelaporan keuangan yang transparan. Termasuk di dalamnya ada pelaksanaan audit berkala, serta penyampaian laporan dampak program (impact reporting) secara teratur.

Ketiga soal adaptasi digital & kemudahan. Yaitu dengan memanfaatkan teknologi digital modern seperti QRIS, platform crowdfunding, media sosial. Tentu dengan aplikasi perpesanan mempermudah akses berdonasi, khususnya bagi generasi milenial dan Gen-Z.


"Melalui FGD ini, kita membedah bagaimana peran muzakki prioritas—mereka yang memiliki kontribusi, tingkat kepercayaan, dan loyalitas tinggi—dalam menopang program-program kemanusiaan dan pemberdayaan masyarakat. Inovasi layanan serta transparansi yang dilakukan lembaga amil menjadi kunci utama dalam merawat kepercayaan tersebut," sambung Taufik dengan mempertegas  pesatnya pertumbuhan kelompok kelas menengah muslim perkotaan membawa tantangan sekaligus peluang besar bagi ekosistem filantropi Islam.


Para tokoh agama yang hadir menyambut positif riset dan langkah-langkah strategis ini. Kehadiran pengurus MUI dan pegiat dakwah zakat menegaskan pentingnya kolaborasi.

Baik akademisi, praktisi lembaga zakat dan ulama untuk terus mendorong optimalisasi penghimpunan ZIS yang akuntabel dan berdampak luas bagi kesejahteraan umat.

"Hasil dari FGD ini diharapkan tidak hanya memberikan kontribusi akademik bagi pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi masukan praktis bagi BAZNAS dan LAZ dalam merumuskan strategi pelayanan muzakki yang lebih profesional dan adaptif di masa mendatang," ujar kandidat doktor itu menutup diskusi. (din).

Topik terkait
Taufik Setyaudin Disertasi Taufik Setyaudin BAZNAS Tangsel BAZNAS Tangerang Selatan Filantropi Islam Filantropi Islam Perkotaan Muzakki Muzakki Prioritas ZIS Zakat Infak Sedekah Pengelolaan Zakat Lembaga Amil Zakat LAZ Tangsel MUI Tangsel UIN Sunan Kalijaga Tangerang Selatan Tangsel Zakat Digital Ekonomi Islam Kelas Menengah Muslim